Saya, Sekilas

———————-

Saya penerima beasiswa IFP Cohort XIII (2009). Saya tertarik mengambil research master tentang studi pembangunan (development studies). Buat saya, hal ini menarik. Saya melihat ada tiga persoalan setidaknya. Pertama, banyak sekali program-program pembangunan yang dihasilkan yang tidak didasarkan pada sebuah penelitian yang baik. Konsekuensi logisnya kemudian adalah fakta bahwa banyak sekali program-program pembangunan yang tidak bermanfaat bagi masyarakat penerima. Kedua, saya melihat bahwa pendekatan pembangunan selalu dilihat dari perspektif peningkatan ekonomi semata yang ditunjukan oleh indikator-indikator ekonomi. Padahal, pembangunan itu suatu hal yang terintegral dengan berbagai aspek kehidupan lainnya seperti kebijakan, pemerintahan, kebiasaan masyarakat setempat (budaya dan adat istiadat), dan aspek lainnya seperti faktor kepercayaan. Ketiga, yang menjadi concern penting lain adalah aliran pemikiran tentang pembangunan itu sendiri yang pada umumnya mengagung-agungkan pendekatan liberalisasi pasar yang percaya sepenuhnya pada mekanisme pasar atau pendekatan sosialis marxis dimana peran negara sangat dominan. Buat saya menolak mentah-mentah neo-liberalisme tanpa dasar pemikiran yang tepat atau menolak mentah-mentah sosialisme marxisme juga mungkin harus ditinjau kembali.

Itulah pikiran sederhana saya. Dan saya beruntung sekali mendapatkan beasiswa ini dari ford. Karena setidaknya dalam kurang lebih dua tahun saya akan mendalami isu-isu ini.

Pilihan negara tujuan studi saya masih belum fixed. But generally, i have decided to study in europe either in uk or the netherlands.

—————————–

Dengan bangga dan humble, saya ingin mengatakan bahwa saya orang kampung. Iya, saya berasal dari sebuah kampung di sebuah pulau di sebelah barat Sumatera. Namanya Pulau Nias. Ada yang mungkin pernah dengar dan ada yang mungkin tidak pernah dengar. Negri ini memang luas sekali. Coba saja bandingkan dengan negara-negara Uni Eropa. Satu negara Indonesia sama luasnya kalau negara-negara Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Belgia, Spanyol dan Denmark digabungkan satu. Indonesia itu, seluas itulah.  Apalagi kalau melihat jumlah pulau yang dimiliki negri ini yang mencapai 17.508 pulau. Sederhananya, negri ini cukup luas. Tapi ya sudahlah.. Soal lain-lainnya, bahasan lain saja hehehe..

Oh ya nama kampung saya itu Bawomataluo. Google aja pasti ketemu deh. Atau linknya ini di webnya UNESCO dan Flickr.

Soal menjadi orang kampung mungkin bagi sebagian orang tidak nyaman. Tetapi buat saya justru sesuatu hal yang membanggakan. Saya tidak pernah mengalami hal yang begitu indah ditempat lain, seperti bermain di masa kecil. Kampung saya juga alamiah, tidak perlu pake masker karena polusi, dan yang jauh lebih penting lainnya adalah nilai-nilai yang hidup di kampung saya. Fabanuasa atau hidup komunal sebagai sekampung begitu kuat sekali. Dan banyak nilai-nilai yang tertanam dalam diri saya dari kampung. Maaf, saya tidak sedang mengkonfrontir tentang orang-orang yang mengangap bangga menjadi orang kota seperti Orang Jakarta, misalnya hehehe.. Ah, itu diskusi yang lain saja…

—————————

Sebelumnya dan masih saat ini juga saya kira, saya bekerja di LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Istilah kerennya NGO (Non-Governmental Organization)🙂  atau lebih netral lagi Ornop (Organisasi Non Pemerintah). Ada juga yang menyebutnya Non-Profit Organization. Apapun namanya. Jelasnya saya beraktifitas di situlah. Nama LSMnya  LPAM-Nias (Lembaga Pencerahan dan Advokasi Masyarakat Nias) dan FORNIHA (Forum Peduli Tano Niha). Menjadi orang LSM antara menyenangkan dan tidak menyenangkan🙂 Setidaknya, saya merasakan kebebasan berpikir, bertindak, berkreasi di LSM. Saya merasa sebagai manusia bebas yang tidak terkekang. Terkadang sangat kritis karena nothing is taken for granted. Tetapi terkadang di situ juga masalahnya.🙂 Saya pikir ketika kekritisan itu bisa disetir menjadi sebuah aksi, kegiatan, perbuatan atau apapun namanya, dia bisa bermanfaat. Tetapi ketika berhenti di situ, kritis toq, bisa jadi gila memang hehehe… Karena praktis semua hal akan dipertanyakan, dirunut, dianulir, dikonfrontir dengan pemikiran lain, dibedah, dipilah, diiris, dipuja, diluluhlantakan, dibangun, dihancurkan, dll. Di sisi yang lain memang, sikap ini juga bisa melahirkan percaya diri yang tinggi, kata lain dari kata “kesombongan’😀 Maksud saya menjadi ‘sombong’ (sombong dalam tanda petik). Perhatikanlah sekali-sekali orang2 LSM. Tidak punya uang, tidak punya rumah, tidak punya mobil, tidak punya tabungan, tetapi ‘sombong’. Ketemu pejabat ogah, ketemu artis setenar apapun biasa aja (kecuali artis yang kritis ya), berteman dgn orang super kaya sekalipun biasa aja (apalagi kalo terkenal sebagai koruptor), PD aja lagi pake kaos di tengah-tengah orang pakai jas atau pakaian2 yang mentereng atau pake slop juga sehari-hari tidak ada persoalan apa2. Rakyat tertindas barangkali ‘Tuhannya’  Dan bagi sebagian teman2, hanya mereka inilah (masyarakat yang terpinggirkan ini) yang patut diberi penghormatan, dedikasi dan keberpihakan.

Tapi entahlah kalau hal2 sperti itu akan berubah… Kata sebagian teman2, orang semakin tua, semakin realistis.. hmm….

—————————–

18 thoughts on “Saya, Sekilas”

  1. sangat informatif,
    salam kenal…

  2. Halo Mas, benar2 tulisan yang kritis, saya suka orang seperti Anda…
    Nice to meet you and salam semangat selalu dari Bocahbancar…..

    Eh iya, isi Blognya keren, info2 beasiswa yang sangat bermanfaat euy🙂

  3. salam kenal mas

  4. hebat… semoga Nohara bisa ngikutin jejaknya…

    • Wah, bisa donk Nohara.. Biasanya kalo saya jalan ke kampus ada jejak-jejak sepatu saya pake sepatu sih soalnya hehehe.. kalo jejak kaki biasanya jalan di pasir begitu hehehehe… sorry, becanda neh.

      Nohara hebat juga ya.. masih sekolah begitu udah punya blog bagus. apalagi kalo udah kuliahan begitu.. wuih.. sip… saya justru salut buat Nohara. serius.. keep the spirit yo… Calon pemimpin masa depan nih…🙂🙂 great..!

  5. Hi..nice to meet this blog…akhirnya bisa dapet info juga tentang beasiswa yang sedang saya ikuti. FYI, kemarin saya baru ikut tes TOEFL-nya untuk IFP ini, belum tahu hasilnya sih…tapi berdoa saja, mudah-mudahan memang rezeki saya. Saya mau tanya nihh…apakah untuk beasiswa ini diperkenankan membawa keluarga (anak) ? Saya punya anak berumur 4 tahun, dan rencananya jika lulus, saya ingin dia ikut bersama saya (jika lulus, insya Allah umurnya sudah menjelang 6 tahun dan tidak terlalu merepotkan). Apakah ada chance untuk itu? mengingat jumlah beasiswanya ‘more than enough’ , saya rasa saya tidak akan mendapatkan kesulitan untuk mengasuhnya sekaligus sekolah. Kebetulan saya juga punya teman, yang sudah berkeluarga dan belum mempunyai anak, di kota tempat saya ingin melanjutkan studi (utrecht, belanda). Terima kasih atas infonya dan bisakah dibalaskan ke alamat email saya di atas. terima kasih. Putri

  6. LPAM dan FORNIHA, kantornya di dekat Museum Gunungsitoli ?

  7. wah dah di Luar Negeri ya bang….. selamat ya… blognya bagus sekali…

  8. Salam kenal Kakak angkatan cohort VIII, saya puji TUHAN masuk di cohort IX dan sekarang sedang di Jakarta bersama teman-teman utk PAT.
    Berarti satu angkatan dengan Agung “Ancak” Wardana” ya?

    • Salam kenal Winarto… Selamat ya….

      Iya saya satu angkatan dengan Agung dan dekat. Dia di Nottingham dan Saya di Birmingham. Dia orangnya baik dan cerdas. Sering2lah konsultasi dgn dia…

  9. Saya malah belum pernah jumpa darat dengan Bli Ancak, tapi sering jumpa udara di milis dan email.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s