Ini praktis minggu ke III setelah memulai perkuliahan dari tanggal 4 Oktober yang lalu. Dan saya mulai menikmatinya.🙂 Kebetulan hari ini kita bicara tentang Grand Theory yg lebih spesifik, Teori Modernisasi. Saya senang karena saya menemukan bahwa konsep-konsep pembangunan sebenarnya merupakan sebuah evolusi pemikiran dari para ‘filsuf’, ‘scholar’ dan pengkritiknya.

Fakta yang lain adalah masyarakat itu adalah masyarakat yg dinamis, dan kemudian dia juga sebenarnya sedang berevolusi, berubah. Bahwa kemudian ada yg berevolusi secara gradual atau secara revolusioner, itu soal lain. Tetapi sekali lagi bahwa society itu berevolusi. Lalu, kemudian dalam menentukan arah evolusi itu, lahir berbagai kebijakan. Lahir berbagai kebijakan yang berasal dari berbagai pemikiran kemana arah pembangunan masyarakat ini. Dan saya sekarang rasanya sudah memulai memetakan point-point pemikiran atau pemahamanku yg sebelumnya scattered (berserakan) dan rasanya mulai terkoneksi…

 

Contoh yang sederhana begini. Trickle Down Effect… Take-off (Tinggal Landas),  Clean Governance, Participatory Approach dan banyak istilah lain yg dulu saya sering menyebutnya tetapi sebenarnya tidak tahu dari asal muasal ide atau pemikiran ini.. Ah, termasuk tentu di dalamnya adalah Persoalan Struktural. Saya ingat teman dari BAKUMSU, Jhonny, yg melekatkan istilah ini dalam benakku. Dan tentu saja kata Revolusi…

 

Dan hari ini, ini yg saya pahami. Setelah Perang Dunia Kedua, Amerika memenangkan pertarungan ini, muncul Marshall Plan, sebuah kebijakan rekonstruksi kembali negara-negara Eropa yg telah dikalahkan. Untuk melakukan ini, satu pemikir Ekonomi yg sangat berpengaruh pada saat ini adalah W. Rostow dengan teori modernisasinya, The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto. Nah, salah satu stages dari proses modernisasi itu adalah take-off.. Dan saya baru sadar kemudian bahwa dulu Suharto dan para ekonom kita selalu dengan bangga mengatakan bahwa kita, Indonesia, sebentar lagi akan masuk pada tahapan Take-Off ini, Tinggal Landas…. hehehehe… Dan dulu itu, kata-kata seperti itu seperti something very very big… Sayangnya, kita, maksudnya saya, tak pernah tau dar mana asal muasal konsepsi ini. Dan kebetulan kita tidak pernah pula tinggal landas kemudian hehehe…

 

Anyways, lalu kemudian thn 70an dan 80an World Bank dengan agenda Structural Adjustmentnya, memegang teguh prinsip-prinsip bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka harus dilakukan perubahan-perubahan terhadap struktur negara dan induksi ide-ide demokrasi yang sangat liberal memakai model societynya Amerika yg sangat kental. Karna mereka menganggap pada saat itu Masyarakat Amerika itu sebagai masyarakat yg ideal, dan memaksa negara-negara lain mengikuti model mereka.

 

Lalu pada tahun 1990an ketika Perang Dingin berakhir antara US dan USSR, praktis model pembangunan yang ada pada saat itu model kapitalisme.

 

Dan ketika terjadi krisi keuangan global 1997/1998 dan tahun belakangan 2009, maka semua konsep-konsep itu semakin dilucuti habis oleh para pengkritiknya… Lalu yang terjadi kemudian hari ini adalah China yg menurut kacamata Barat tidak demokratis justru memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Bahkan China menjadi pemberi pinjaman kepada Negara Amerika. Lucu juga ya, Negara Komunis menjadi pemberi utang kepada Negara Kapitalis hehehehe….

 

Cuba itu juga sering dicela dari perspektif HAM dan demokrasi, padahal survey-survey independent dan bahkan UN (WHO) kalau tidak salah meletakkan Cuba sebagai salah negara dengan jaminan kesehatan yang jauh lebih baik dari Amerika…. Paradoks-paradoks ini seperti memutarbalikan pemikiran-pemikiran superioritas kapitalisme itu…. hmm….. dan rasanya aku harus lebih tekun membaca nih….