Tags

, , , ,

Saya sebenarnya menunggu selesainya semua sessi wawancara semua untuk membuat tulisan baru.  Sessi wawancara terakhir itu tgl 5 Juni di Makassar dengan teman-teman region VI. Saya menahan diri untuk membuat postingan baru dengan harapan teman-teman yang akan wawancara tidak distract konsentrasinya.

Lalu semua sessi wawancara sudah selaikan?🙂

.

Di tingkat ini, jangan anggap berlebihan kalau saya mengatakan bahwa anda sebenarnya sudah layak mendapatkan beasiswa itu. Bahwa kemudian ada faktor lain sehingga anda nantinya tidak mendapatkannya, saya melihat bahwa besar kemungkinan itu terjadi karena hanyalah karena faktor quota. Artinya dari 200an orang yang mengikuti test wawancara, yang diterima hanya sekitar 48 orang (quota).  Nah, sebenarnya kalau panelis membuat sebuah daftar layak atau tidak layak, saya yakin yang layak barangkali bisa mencapai lebih dari 150an orang.  Inti yang mau saya katakan bahwa anda sebenarnya sudah layak mendapatkan beasiswa itu dan anda punya modal besar untuk mencoba menjajaki beasiswa lain sebagai bumper (second or third options). Kliklah di link di blog ini ada banyak penyedia beasiswa lainnya. Sebagai jaga-jaga dan tidak ada salahnya coba-coba saja apply.

.

Dan kalau test wawancara kemarin itu anda anggap sebagai usaha yang all out, well, iya betul🙂. Dan selamat ya atas kerja kerasnya. Sayangnya, saya harus mengatakan bahwa “Tetapi perjuangan sebenarnya baru saja dimulai bung..! Yah, perjuangan itu baru mulai…” hehehe…

.

Sekali lagi, soal anda kemudian diterima atau tidak diterima dalam pengumuman Bulan Agustus nantinya soal lain. Tetapi saya mau mengajak teman-teman melihat sesuatu yang lain paska pengumuman itu. Saya mau mengajak melihat  ada sesuatu yang lebih besar yang kalau dipersiapkan dengan matang dan baik, hasil prosesnya bisa maksimal. Secara pribadi saya melihat beasiswa ini terlalu sayang untuk tidak dimaksimalkan. Oleh karena itu perjuangan selama proses ini, sebelum mulai perkuliahan di negri tujuan studi, menjadi sangat penting dan vital. Persiapan-persiapan ini juga kalau anda lakukan mulai dari sekarang, ini adalah modal terbesar anda tidak saja untuk beasiswa IFP ini tetapi beasiswa apapun. Dan anggaplah penyiapan-penyiapan hal-hal yang akan dibahas di bawah ini sebagai sebuah perjuangan.

…..

Perjuangan yang sebenarnya itu ada dua. Perjuangan pertama adalah perjuangan masuk universitas yang diinginkan dan perjuangan yang kedua adalah peningkatan kemampuan Bahasa Inggris. Kita akan coba kupas satu per satu. Dan kalau postingan ini terkesan mutar-mutar saja atau terkesan mengulang-ulang pesan-pesan postingan sebelumnya, yah apa boleh buat. Memang begitulah adanya hehehe… Atau kalau sedikit positif, kita bisa anggap bahwa semakin sering diulang sebuah pesan, semakin dalam ia bercokol di kepala kita. Artinya bahwa inti pesannya dapat ditangkap dengan sangat jelas.

.

Perjuangan Masuk Universitas yang Diinginkan
Setelah pengumuman nanti pada pertengahan bulan Agustus ini, hanya dalam kelang satu setengah bulan yakni pada bulan Oktober, teman-teman harus sudah berada di Jakarta untuk mengikuti PAT (Pre-Academic Training) selama 6 bulan. 3 bulan pertama ini adalah waktu yang sangat kritis dan sangat menentukan. Nah, jangan seperti saya dan kebanyakan teman-teman saya. Jangan pernah terulang kisah kami hehehe.. Saya pada dasarnya orangnya lugu. Yah, betul, saya lugu soal proses-proses ini. Dan keluguan saya ini tidak memberi banyak manfaat. Faktornya sangat sederhana.  Saya tidak tahu banyak informasi. Saya pernah bertanya ke seorang teman, kebetulan dia seorang alumni IFP, dan saya bisa memahami kesibukannya sehingga saya tidak pernah mendapatkan informasi yang jelas. Saya pernah mencari informasi tentang proses ini di internet tetapi juga tidak mendapatkannya. Jadi praktisnya, saya datang ke Jakarta dengan rasa senang karena telah diterima sebagai penerima beasiswa IFP dan dengan ‘tangan kosong’.  Yang saya tau, saya akan di Jakarta selama 6 bulan dan setelah itu berangkat ke negri tujuan studi. Duh, malang nian nasibku hehehe… tak sesederhana itu rupanya…  Dan blog ini dimaksud untuk memberantas keluguan (bukan memberantas kebodohan ya) atas informasi itu hehehe… Sekalian, untuk berbagi informasi dengan teman-teman sebangsa dan setanah air hehehe….


Sekarang teman-teman memiliki waktu 7 bulan untuk mempersiapkan perjuangan masuk universitas yang diinginkan ini. Saya menulis ‘diinginkan’ di sini karena kita akan diberi 3 pilihan universitas di luar region dan 1 pilihan universitas dalam region (in-country region). Silahkan dibaca postingan sebelumnya “Development Studies”. Dari 4 pilihan ini, anda harus benar-benar memahami program studi di 3 pilihan universitas ini. Kalau tidak, itu artinya anda siap dicampakkan di salah satu universitas yang bukan yang paling anda inginkan.

.

Lalu, oleh karena itu, cara yang paling aman adalah pelajari program-program universitas itu. Dan ini berkaitan dengan apa yang anda ingin pelajari sebenarnya. Lupakan sejenak apa yang anda tulis di applikasi beasiswa IFP anda itu. Anggaplah itu hanya semacam guidelines saja. Anda harus menjawab dengan jelas dan jujur pada diri anda sendiri apa yang ingin anda pelajari di post graduate study anda ini. Saran saya, kunjungilah website universitas-universitas itu. Print, baca dengan seksama dan cobalah mengerti program studi yang ditawarkan mereka. Program studi ini banyak sekali dan saling berkaitan. Lihatlah  mana yang sebenarnya sesuai dengan harapan anda. Nah, kalau sudah ada satu universitas yang menawarkan itu, jangan berhenti. Cari lagi program yang sejenis di universitas-universitas lainnya. Dari proses ini, saya meyakini bahwa tujuan program studi anda akan terbentuk dan jelas.

Setelah itu, coba berkonsultasi sebanyak mungkin dengan alumni dari program studi yang anda inginkan itu. Biasanya mereka memiliki website grup alumni. Pelajari dan cobalah bertanya dengan mereka dengan spesifik.

.

Dari mempelajari informasi program studi yang anda inginkan, akan tergambar dengan jelas apa syarat-syarat (requirements) yang dibutuhkan untuk masuk ke program studi yang dimaksud. Yang sangat jelas itu adalah pra-syarat nilai minimal skor Bahasa Inggris yang dibutuhkan (IELTS/TOEFL).  Yang kedua kemudian adalah tergantung dari program studi yang ditawarkan ini apakah taught master atau research master. Biasanya kalau sekedar taught master yang setahun itu, tidak banyak requirement yang dibutuhkan. Umumnya begitu sih tetapi akan lebih baik kalau secara jeli dilihat lagi di web itu.

.

Nah, yang sedikit agak ribet requirementnya adalah Research Master. Dan saya kira hal ini cukup pantas karena anda tidak hanya akan mendapatkan core pengetahuan seperti di taught master tetapi juga akan mendapatkan skill tentang research; penelitian secara akademis. Bahkan, kalau ada keinginan melanjutkan ke PhD, research master ini adalah jalan yang pas. You’re on the right track. Lalu apa yang dibutuhkan untuk diterima di Research Master ini? Satu yang pasti pertama adalah Research Proposal. Anda harus sudah mulai menyiapkan dari sekarang. Anda harus sudah mulai coret-coret di kertas anda research apa yang anda mau lakukan. Lalu, anda harus membuat research proposal yang secara akademis dapat diterima. Jujur, saya belajar membuat research proposal baru-baru ini. Kalau membuat project proposal misalnya biasanya saya agak lihai soal itu :p Tetapi Research Proposal secara akademis jauh sekali berbeda. Saya sedang drafting tulisan soal ini.

.

Kedua, kalau anda memiliki tulisan-tulisan akademis (baiknya) sekarang coba lihat lagi. Nah, tidak ada salahnya mulai menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris karena contoh-contoh tulisan anda ini bisa saja diminta oleh universitas yang akan dipakai sebagai salah satu bahan untuk menerima anda atau tidak.

.

Ketiga adalah nilai Bahasa Inggris (IELTS/TOEFL) harus di atas rata-rata yang dibutuhkan untuk taught master. Oh ya, harus itu hehehe..

.

Keempat. Harus mulai dari sekarang anda ngintip professor mana yang harus anda kontak ke depan. Anda harus memiliki daftar professor di universitas yang anda inginkan untuk dikontak. Di setiap website universitas, ada daftar nama-nama professor termasuk bidang yang diminatinya. Nah, coba lihat professor yang sesuai dengan minatmu juga. Nanti pada saatnya, kontak dia.

.

Reference Letters. Jujur, kalau saya lihat kembali Reference Letter yang saya dapat sewaktu applikasi beasiswa rasa-rasanya tak ingin kulihat lagi. Soalnya reference letter itu dibuat dengan sangat terburu-buru. Kalau tidak salah waktu yang diberikan hanya sebulan untuk mengisi semua applikasi (termasuk reference letter) pada saat itu. Jadi semua serba harus cepat. Saya baru lihat sebuah reference letter teman yang bagus yang dibuat oleh seorang professor yang saya kira jauh sekali dari apa yang saya dapat baik dari segi content maupun cara penyampaiannya.

.

Reference Letter ini penting buat masuk ke  universitas yang diinginkan. Temanku itu bisa diterima di University of Amsterdam saya duga karena pengaruh besar dari Reference Letter ini. Di University of Amsterdam salah satu pertimbangan utama seorang applicant diterima adalah kelinieran antara studi s1 dulu dan program studi yang diapply. Harus linier. Temanku ini rencana program studinya tidak linier dengan studi S1nya. Dulu dia belajar psikologi dan sekarang mau mengambil International Development Studies jurusan Child Rights. Tetapi akhirnya dia diterima dengan kompromi bahwa dia akan mengambil satu semester untuk prepatory program. Jadi, carilah satu orang setidaknya yang bergelar akademis Doktor atau PhD yang kenal anda dengan baik. Tidak ada salahnya mulai mengobrolkan dengan dia soal ini.  Reference Letter yang lain bisa anda dapatkan dari orang-orang yang berada di lembaga-lembaga terkenal. Bagusnya Reference Letter itu dibuat dikop surat dan stempel lembaga-lembaga itu.🙂 Ini trik jitu hehehe…

.

Hal yang lainnya adalah mengisi Generic Application khususnya untuk bagian Future Plan, Study Objectives dan Personal Statement. Bagian ini nanti akan dibahas tersendiri.

.

Jadi itu langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk sementara ini. Lakukan sajalah. Tidak ada salahnya dan tidak ada ruginya. Hasil diterima atau tidak diterima beasiswa ini soal kedua. Ini tentu di luar kontrol kita. Tetapi hal-hal yang masih di dalam kontrol kita dan tanggung jawab kita, lakukanlah. Karena pada akhirnya, semua yang bertanggung jawab tentang proses ini adalah anda sendiri. Tidak ada orang lain atau lembaga lain. Hanya Anda sendiri.🙂🙂🙂

.

Perjuangan Kedua; peningkatan kemampuan berbahasa Inggris.

Saya sudah menuliskan di beberapa postingan sebelumnya betapa pentingnya kemampuan Bahasa Inggris ini. Ayolah, sedikit serius. Di titik ini jangan pernah ada kompromi. Teman-teman harus mendapatkan skor yang baik. ITP TOEFL itu harus minimal 550. Ada yang mensyaratkan 570 atau 580. IELTS paling aman itu 6.5 dimana semua band (item yang diuji) nilainya harus setidaknya 6. Tanyakanlah ke IIEF nilai skor anda waktu ujian sebelum wawancara itu sehingga tau gambaran seberapa skor lagi yang akan dicapai. Kalau teman-teman sudah mendapatkan angka ini, titik aman itu sudah di tangan. Karna kalau tidak, perjuangan akan semakin panjang,  berliku dan melelahkan. Percayalah…! Dan kalau terbiasa dengan stress apalagi shock culture hidup di Jakarta, yah tidak apa-apa. Tetapi kalau tidak, sebaiknya janganlah diabaikan tentang nilai ini. Lebih baik energi untuk recovery terhadap stress itu nantinya dipakai untuk yang lain.

.

Berkorbanlah, beli buku-buku yang berserakan di Gramedia dan toko-toko buku lainnya tentang TOEFL dan IELTS ini. No Pain, No Gain.  And No Free Lunch. Percayalah! Jangan selalu mendasarkan sesuatu dari support yang akan diberikan. Atau jangan terlalu banyak alasan; tidak ada uanglah, tidak ada waktu, tidak ngerti, lupa, banyak kerjaan, anak saya begini, suami/istri saya begono, apalah awak ini orang marginal, dst…. Mandirilah.. Berjuanglah… Perjuangan karena keringat sendiri itu nikmat koq..🙂

.

Jadi, walaupun salah satu inti kenapa teman-teman harus menghabiskan waktu 6 bulan di Jakarta itu ya untuk ini, tetapi persoalannya adalah kami pernah melakukan survey di antara kami sendiri. Yang mengalami peningkatan nilai skor itu di tingkat yang memuaskan mungkin hanya mencapai 15 s/d 20% dari total peserta 36 orang. Artinya hanya sekitar 5 s/d 7 orang. Dan kerja keras 9 orang ini minta ampun. Saya sih melihat persoalan lebih kepada sistemnya karena saya tidak yakin bahwa 29 orang yang lainnya ini memiliki daya tangkap lemah atau mereka berkemampuan berpikir rendah. Saya tidak percaya itu. Saya melihatnya sebagai persoalan sistemik; metode pengajaran, content, kultur dan keseriusan lembaga itu sendiri. Kecuali teman-teman untuk cohort IX ini, kursus Bahasa Inggrisnya dipindahkan ke tempat kursus yang lebih baik. Mungkin peningkatan itu bisa dicapai. Tetapi saya pesimis itu akan terjadi. Teman-teman besar kemungkinan akan kursus di lembaga yang kami jalani itu. Jadi intinya, mulailah seriusi Bahasa Inggris ini. Jangan pernah tergiur oleh isu yang mengatakan bahwa semakin rendah nilai Bahasa Inggris kita, semakin cepat kita dikirim ke host country untuk PAT lanjutan. Sebaiknya pemikiran seperti ini dibuang jauh-jauh. Tidak baik untuk character building mental seorang fellow dan tidak baik untuk negri hehehe… Intinya mulailah mengerjakan soal-soal TOEFL dan/atau IELTS ini. Mulailah dari sekarang. Okay coy…???

.

Jadi, begitulah sekilas teman-teman hehehe.. Hmmm… sejauh ini masih semangat…???  Yah, perjuangan itu baru dimulai dan pasti akan nikmat pada akhirnya🙂🙂🙂 You can do it…!! Sebagai seorang fellow-elect itu artinya anda punya ‘sesuatu’. Anda telah menyisihkan ribuan orang untuk masuk ke gelanggang berikutnya. Artinya Anda punya kemampuan di atas rata-rata dan yakinlah anda pasti bisa melakukannya. Bisa tidaknya sesuatu diawali dari pikiran dan keyakinan. Jadi kalau anda pikir dan yakin bahwa anda akan bisa, pasti akan bisa…..  Cayo………..!!!??🙂

.