Tags

, ,

Saya melamar 4 universitas seperti yang saya sebutkan dalam postingan sebelumnya. Jadi saya akan mulai dari kronologisnya dulu. bulan oktober 2009, semua fellow-elect mengikuti PAT (Pre-Academic Training) di Jakarta. PAT ini sebenarnya lebih tepatnya disebut Training Bahasa Inggris karena memang inti dari PAT yang dimaksud itu ya itu.

.

Pada saat yang bersamaan, kami juga menyiapkan apa yang disebut ‘Generic Application Form’. Generic Application Form ini adalah formulir applikasi ke universitas yang dirancang khusus oleh IFP untuk dipergunakan ke semua universitas yang dilamar oleh fellow-elect. Dasar pemikirannya barangkali adalah karena setiap universitas memiliki formulir applikasi tersendiri, maka akan sangat merepotkan banyak pihak terutama fellow-elect untuk mengisi satu-satu formulir-formulir applikasi universitas yang mau dilamar. Jadi dirancanglah Generic Application Form ini untuk memudahkan dan tugas kami adalah mengisinya. Bagian yang paling substansial dari formulir ini ada 3 yaitu; Future Plan, Study Objectives dan Personal Statement. Bagian ini merupakan essay, mirip seperti essay yang di form applikasi beasiswa IFP tetapi essay kali ini jauh lebih kompleks dan tertata.  Selebihnya, isian Generic Applicaiton Form ini adalah informasi-informasi umum seperti CVlah kira-kira gitu.

.

Generic Application Form ini banyak diterima oleh universitas-universitas internasional kecuali untuk universitas-universitas yang memiliki standard tinggi atau ketat dalam aturan mereka seperti Oxford misalnya yang hanya menerima isian formulir mereka sendiri.

.

Jadi sederhananya saya melamar 4 universitas itu; University of Amsterdam (UvA), ISS (Institute of Social Studies), Oxford University dan terakhir University of Birmingham untuk program Research Master of  Development Studies.

.

Nah, 3 universitas menerima saya; UvA, ISS dan University of Birmingham. Oxford masih terlalu cadas untuk dimasuki hehehe… Tetapi pada akhirnya saya akan memilikh University of Birmingham (UB), UK. UB menawarkan M.Phil. on International Development. Sebenarnya buat saya UvA juga menarik. UvA itu merupakan universitas terbaik di Belanda dan sangat ketat juga. Hanya saja memang, pertimbangan saya adalah buat orang Indonesia, memasuki universitas2 di Inggris itu jauh lebih sulit sebenarnya dibandingkan dengan daratan Eropa lainnya. Kemudian transparansi proses applikasi saya ke situ juga tidak begitu memuaskan. Walaupun pada bulan Desember 2009, pada saat deadline penyelesaian Generic Application Form, saya benar-benar telah set up my heart to UvA. Tetapi kemudian dalam proses, saya mereview lagi tujuan universitas saya ke UvA itu.

.

Yang saya tau awalnya hanyalah ISS. Jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah pernah dengar ISS ini. Saya juga pernah bertemu dengan beberapa alumninya. Dan kesan yang saya tangkap dari mereka adalah bahwa ISS ini dulunya memang bagus. Tetapi belakangan mengalami perubahan-perubahan terutama soal kualitas. Jadi kemudian saya memikir-mikir kembali untuk memilihnya. Selain itu masuk ke ISS juga sepanjang TOEFL anda bisa 500, “mudah meriah euyy…” Dan setelah search yang cukup intensif, saya menemukan universitas-universitas lain.

.

Pertimbangan yang lain adalah ini. Kemampuan Artikulasi dalam Bahasa Inggris. Saya sadar sepenuhnya bahwa Bahasa Inggris saya itu tidak sebaik kemampuan saya dalam berbahasa Indonesia misalnya. Saya yakin sekali bahwa saya menyukai Bahasa Indonesia selain Bahasa Ibu saya karena dalam Bahasa Indonesia saya bisa mengartikulasi pemikiran, perasaan, argumen, dll dengan baik. Kemampuan artikulasi dalam Bahasa Inggris saya tidak sebaik dengan Bahasa Indonesia atau Bahasa Ibu saya tentu saja. Oleh karena itu pertimbangannya kemudian adalah dengan belajar di host country yang memang bahasa nativenya Bahasa Inggris, saya yakin bisa mendongkrak kemampuan artikulasi saya dalam Bahasa Inggris. “Kemampuan artikulasi” yang saya maksud tentu saja tidak sama dengan sekedar “kemampuan berbahasa” Inggris.

,

So, Birmingham…, I’m coming hehehe…