Saya kira setelah kita bicara soal idealisme di balik beasiswa itu dan unsur finansialnya, tentu pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mendapatkannya? Ini hanya sharing saja. Thousand ways to achieve scholarship but these might be only few of them. Selain itu, setiap orang pasti punya cara yang unik mencapai sesuatu, bukan?

Pertama

Bermimpilah.  Yah, bermimpilah terlebih dahulu. Mimpi di sini jangan diartikan negatif dulu ya. Yah, memang ada dalam kultur kita yang mengasosiasikan mimpi itu sebagai sesuatu yang tidak produktif dan seolah-olah tidak berguna. Kata ‘mimpi‘ itu telah mengalami distorsi makna. Padahal mimpi tidak harus dimaknai seperti itu. Sebenarnya ketika Sukarno mengatakan “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit” kan sebenarnya bahasa sederhananya adalah bermimpilah sebisa-bisanya, setinggi-tingginya, seliar-liarnya, sebesar-besarnya and so on.  Dan bermimpilah bahwa anda pada saatnya akan membuat mimpi itu menjadi kenyataan. 🙂

Kedua

Lakukanlah apa yang bisa dilakukan. Sebenarnya ada yang bisa dilakukan setiap saat sebagai langkah-langkah awal untuk mendapatkan beasiswa. Sebagian yang bisa dilakukan itu bahkan tidak membutuhkan biaya apapun. Hal-hal yang perlu disiapkan ini juga bisa menjadi modal untuk applikasi beasiswa apapun. Soal format dan penyesuaian isi formulir dan persyaratan administrasi lainnya sesuai permintaan si pemberi beasiswa, itu bisa dengan mudah dilakukan jika sudah ada dasarnya. Makanya saya kira apa yang bisa dilakukan, lakukanlah.

Saya kira, ada beberapa hal.

CV/Biodata

CV ini kelihatannya sepele dan kita sering dengar tentangnya. Tetapi terkadang di saat-saat kita membutuhkan, kita pusing dibuatnya. Saya kira alasan sederhananya kita pusing dibuatnya karena CV itu kan bukan sesuatu yang statis; seperti ijazah misalnya, yang sekali buat (dapat) ya sudah. Tetapi CV kan harus diisi sesuai dengan berjalannya waktu yang kita lalui.

Oleh karena itu, buatlah CV anda sekarang dan update terus menerus sesuai dengan pengalaman-pengalaman baru yang dilalui. Terutama bagi teman2 aktivis LSM nih, biasanya CV ini adalah hal yang sama sekali remeh temeh hehehe.. kayaknya gak penting banget deh. Tapi percayalah, pada waktunya, dia akan sangat berguna. Pengalaman saya misalnya, saya hanya bisa mampu menuliskan pengalaman saya ikut seminar, training, workshop itu sejak tahun 2005 atau 2006. Padahal tahun-tahun sebelumnya ramai juga pertemuan-pertemuan yang saya ikuti. Tetapi persoalannya adalah  saya tidak ingat lagi ketika harus menuliskan kembali pada tahun 2009. Bayangkan beberapa tahun yang lalu, seminar apa yang diikuti, sudah pada lupa semuanya. Untungnya sejak tahun 2005 sudah mulai ada catatan-catatan yang tertinggal.🙂 Ah, hidup ini memang menarik…

Dengan CV yang lengkap, bahkan kalau mengisi formulir apapun, tinggal lihat CVnya tanpa harus bongkar-bongkar lagi dokumen-dokumen. Contoh neh, hafal gak tahun berapa lulus SD? hehehe. Kalau saya biasanya menghitung mundur. Jadi saya ingat dulu tahun berapa saya masuk kuliah, kemudian hitung mundur tiga tahun (waktu SMA), hitung mundur lagi 3 tahun (waktu SMP) dan barulah bisa ketemu kira2 tahun berapa lulus SD😀 Tapi kan kalau ada CV, ya udah tinggal lihat saja,  selesai persoalan. Anyways, make it right now or if you have already got one, update it..!

Cerita menarik lagi nih soal CV. Dulu, Direktur saya itu mau diundang ke sebuah pertemuan, pertemuan resmilah.. Jadi sebagai salah satu syarat, dia dimintakan buat CV. Aku tak habis pikir bagaimana CVnya hanya secarik kertas sementara pengalamannya berjibun.. Dan dengan entengnya dia bilang “Ah, itu tak penting sekali itu. Itu sajapun sudah mantap” hehehe….  ah, dunia yang lain memang… tapi itulah… dan dia memang tidak bermaksud untuk apply beasiswa koq🙂

Kumpulkan Dokumen-Dokumen dan Back Up

Saya pernah kucar-kacir, hanya karena saya tidak tahu dimana ijazah saya.  Bagi sebagian orang, saya tidak tahu dimana ijazah saya barangkali hal aneh. Gila ijazah tak tau dimana… hehehe…. Tetapi memang jujurlah, pemberontakan terhadap banyak hal, termasuk pendidikan yang membodohi itu😀, telah membawa pada sikap yang terkadang buat orang lain extrem tetapi kami merasa bahwa itu pengejewantahan nilai-nilai. ceile…Termasuk tidak peduli pada hal2 seperti itu misalnya. dan sebagiannya, dari aktivis menjadi MA alias mahasiswa abadi.. sebagian lagi meninggalkan bangku kuliahnya.

Soal ijazah ini, saya pernah diancam seorang petugas bagian administrasi universitas. Ceritanya begini. Setelah tamat kuliah, wisuda, aku kembalikan jubah wisudanya yang memang disewa dan setelah itu tidak pernah lagi menginjakan kaki di kampus itu. Selain sudah bosan, saya juga sibuk di tempat lain, di LSM lah. Jadi praktis saya tidak pernah ke kampus. Lalu, setelah setahun lebih, tiba-tiba ada telpon dari sebuah nomor. Aku angkat seperti biasa dan dia memperkenalkan diri. Tanpa basa-basi kemudian, dia bilang “Kalau kau tidak mengambil ijazahmu ini sekarang, saya tidak bertanggung jawab kalau hilang, terbakar atau masuk tong sampah”  Dan astaga,.. aku baru sadar setelah setahun lebih rupanya ijazahku masih di kampus hehehe.. Saya terhenyak antara merasa diri goblok dan terkejut, rupanya saya belum mengambil ijazah saya hehe.. Lalu aku janji sama dia untuk mengambilnya keesokan harinya. Tetapi itu tidak pernah terjadi sampai beberapa bulan kemudian setelah telponan itu, aku baru ngambil..

Pada saat itu memang, ijazah itu seperti selembar kertas yang tak bernilai. Seperti secarik lembaran koran kemarin. Tak berguna. Sederhana alasannya, sewaktu saya masuk di LSM, kami tidak membutuhkan formalitas seperti itu. Wong, kami yang mendirikan LSMnya hehehehe… Jadi, ngapain juga merepotkan diri pada hal2 yang tak masuk akal seperti itu hehehe.. Buat kita sesuatu yang formal dan membodohi harus dilawan. Ah, tapi itulah.. Itu kan masa-masa pemberontakan.. sekarang kan sudah agak kalem. Dan sekarangpun saya melihat ada perubahan. Kalau masuk LSM, harus ada lamaran tentu saja beserta dengan fotokopi ijazah.. Hmm…setidaknya sekarang aku tidak terlalu keras menolak itu, tetapi sewaktu saya direkturnya juga tidak meminta itu.. Saya pikir cukup fairlah.. Tidak menolaknya tetapi juga tidak menjadikannya sebagai prasyarat.. Fair ya..? Tapi sebaiknya CV harus ada lah hehehe..

Nah, dokumen2 ini, Ijazah, transkrip nilai baik yang sudah dileges maupun yang belum sebaiknya disimpan baik2 dan di back up.  Maksud back up di sini adalah sebaiknya disimpan dalam bentuk file. Jadi dokumen2 itu discan dan dibuatkan dalam bentuk file, jpg misalnya sehingga in case terjadi sesuatu, setidaknya masih ada back up. Dokumen2 berupa sertifikat juga sebaiknya mulai dikumpulkan ditulisakan dalam CV.  Dokumen yang penting lainnya adalah Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan identitias diri; KTP atau Passport. Oh ya, penting juga dikumpulin tulisan-tulisan atau laporan-laporan yang pernah dibuat in case diminta oleh Universitas.

Statement of Purpose/Objective Studies/Future Plan/Personal Statement/Motivation Letter

Umumnya Universitas di Eropa, US atau Australia meminta calon mahasiswanya menuliskan “Statement of Purpose” atau Objective Studies atau mirip dengan Motivation Letter. Istilahnya berbeda-beda. Tetapi apapun intinya kan yang penting substansinya. Substansi dari tulisan ini adalah si pelamar (calon mahasiswa) memberikan penjelasan atau deskripsi apa pengalaman sebelumnya, latar belakang pendidikannya, minatnya, dia mau belajar apa, bagaimana dia melihat program yang ditawarkan oleh Universitas dan bagaimana studi ini kelak akan bermanfaat. Amalia, si commentator rutin dari blog ini, memberikan link tentang itu; Motivation Letter yang diposting di webnya NESO. Linknya klik di sini.

Intinya adalah tidak salah mencoba menuliskannya, semacam draftlah. Tidak harus menunggu apapun atau harus setelah diterima oleh beasiswa apapun. Tulis aja. Setidaknya akan memberimu gambaran untuk diri sendiri, sebenarnya untuk apa juga sih belajar ke luar negeri itu. Dengan mencoba membuat draftnya siapa tau aja dapat insight baru. iya ga?


Last but Not Least ENGLISH

Dalam beberapa postingan sebelumnya, sebenarnya sudah dituliskan betapa pentingnya penguasaan Bahasa Inggris ini sehingga studinya maksimal. Selain itu, indikator yang sering dipakai sebagai ukuran kemampuan kita berbahasa Inggris ini kan Nilai either ITP TOEFL atau iBT atau IELTS.  Ngerjain TOEFL terutama ITP TOEFL itu sebenarnya asyik, kayak teka-teki silang🙂🙂 Coba aja, pasti lama-lama asyik. Soalnya, aku lagi asyik2nya ngutak-atik soalnya dan rasa-rasanya koq kayak puzzle gitu hehehe..

Kalau 3 bagian di atas sangat bergantung dari persiapan diri sendiri, satu bagian lagi berhubungan dengan orang lain dan namanya Reference Letter. Carilah 3 orang terbaik yang anda kenal yang bersedia memberikan anda Reference Letter yang baik yang mendukung usaha anda untuk melanjutkan studi.

Kayaknya hanya itu deh. Tidak banyak koq🙂🙂
Let’s summarize again.

  1. CV/Biodata
  2. Dokumen: Ijazah, Transkript Nilai, Akta Kelahiran, Kartu Keluarga dan Identitas Diri
  3. Statement of Purpose / Study Objectives/Personal Statement/Motivation Letter
  4. Sertifikat Nilai TOEFL/IELTS
  5. Reference Letter

Hanya 5 point toh.. dan selamat berburu beasiswa ya… banyak koq🙂 jangan khawatir.
Sepanjang tidak berhenti, anda akan sampai🙂🙂🙂
Good Luck yo..