Tulisan ini akan mencoba mengulas dengan singkat hal-hal yang berhubungan dengan persiapan untuk melamar (apply) sebuah beasiswa. Barangkali, juga bisa merefresh ingatan teman2 yang sudah apply dan masih dalam proses seleksi. Syukurlah kalau masih ada dalam ulasan singkat ini hal-hal yang masih bisa dilakukan sambil mengikuti proses-proses tahapan beasiswanya. Tulisan ini sebenarnya di’evoke‘  oleh comments positif teman2 yang menurut saya baiknya dituliskan dalam satu postingan saja.

 

Sebelum tulisannya sampai pada ulasan sederhana itu, mungkin sebaiknya kita mencoba melihat apa yang tak terlihat🙂 Kata orang sih, ‘seeing is believing’. Dan ada betulnya pameo ini.  But in most cases,  ada juga yang harus kita ‘believing‘ dulu sebelum melihat sesuatu itu, iya gak? Katanya lagi, berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi mempercayainya🙂🙂 Otherwise, terkadang semangat itu bisa memudar. Dalam banyak proses hidup ini dan termasuk dalam konteks applikasi beasiswa tentu saja, perasaan itu akan selalu up and down, up and down. Seperti roller coaster, naik turun. Sebagian sewaktu naik kita tentu saja senang dan wajar🙂 tetapi ada yang sewaktu turun lupa untuk naik lagi hehehe.. Untuk naik lagi memang dibutuhkan energi besar. Dibutuhkan motivasi yang tinggi. Dan kalau bisa melihat sesuatu yang tak tampak itu, energi untuk naik itu bisa muncul dalam jumlah yang besar sehingga naik itu menjadi mudah kembali. Aku yakin banyak orang belum mendapatkan beasiswa bukan karena basically dia tidak deserve untuk itu tetapi hanya karena satu persoalan. Dia lupa naik, dia lupa memotivasi kembali dirinya, dia lupa bahwa sebenarnya tinggal satu atau dua langkah lagi untuk mencapai impiannya. 

 

Lalu apa yang tak terlihat itu? 

 

Dalam keadaan sekarang, apapun yang kita lakukan, apakah berada dalam tumpukan kertas2 kerja, kesibukan membuat laporan, proposal, kesibukan ngerjain program atau keasyikan mengerjakan rutinitas sehari-hari, apapun itu, selalu ada masalah. Dan biasanya masalah ini kemudian menguras energi dan pikiran. Dan ketika segala energi ditumpahkan ke situ dan akhirnya kita terlupakan ada sesuatu yang lain yang tak tampak yang mestinya butuh energi kita untuk dipikirkan dan dilakukan juga. Saya pernah keasyikan bekerja dan asyik mengatasi persoalan hidup keseharian dan asyik menikmati hidup juga sekalian🙂 selama bertahun-tahun sampai akhirnya saya tidak pernah mengutak-atik appliksi beasiswa ini. Untungnya ada selalu faktor eksternal yang mengingatkan yang ada di internal ini.🙂 :) 

 

Pertama sekali, impian mendapatkan beasiswa itu buat saya mulia. Mungkin kita bisa berbeda pendapat soal ini tetapi saya mengajak melihat dari sisi yang lain. Dia mulia karena buat saya kalau seseorang mendapatkan beasiswa ini dan dapat melanjutkan studinya dan setelah itu mengaplikasikan ilmunya kepada orang-orang terdekatnya, komunitasnya dan negaranya ini and in general untuk kebaikan umat manusia, bukankah ini sesuatu yang baik? Bukankah Sukarno dalam proses studinya semakin terasah pemikirannya melihat realitas sosial yang ada, Muhammad Hatta dan para pemimpin bangsa pertama ini mengasah semangat mereka untuk bangsa ini ketika mereka di bangku kuliah? Dan ada banyak contoh yang lain. Terlepas dari banyak hal, tetapi bukankah kita juga merasa beruntung karena mendapatkan ‘sesuatu’ yang berguna setelah kita berada di bangku kuliah dulu? sewaktu s1 dulu? Di sisi yang lain memang, terlepas dari banyak protes dan saya pikir wajar kita protes, ada banyak juga yang setelah sekolah justru dianggap menjerumuskan bangsa ini semisal “mafia barkely“.  Tetapi once again, studi lebih lanjut itu, ketika dia bermanfaat bagi banyak orang kelak dan tidak menjerumuskan masyarakat banyak dalam tangan2 sekolompok orang, maka dia menjadi sesuatu yang mulia.

 

Sayangnya tidak semua orang, dalam konteks kita sebagai orang Indonesia misalnya, mendapatkan kesempatan untuk belajar kembali atau studi lebih lanjut. Walaupun dia memiliki motivasi tinggi untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, berbakat, punya jiwa kepemimpinan, mau mendidikasikan dirinya untuk kepentingan orang banyak, dll karena satu hal. Faktor finansial. di UI saja misalnya, untuk mengambil sebuah program magister selama dua tahun, seseorang itu harus mengeluarkan kurang lebih Rp 30 juta. Di tambah dengan biaya-biaya hidupnya dan biaya-biaya lainnya, saya taksir in total akan mengeluarkan dana Rp 80 juta minimal. What?? Ya, lalu darimana mencari dana Rp 80 juta? Kalau pertanyaan yang sama ditanyakan ke saya, jujurlah, saya sudah cukup puas studi s1 saya hehehe…. Persoalannya sewaktu saya bekerja di LSM misalnya untuk menyisihkan dana Rp 500.000 perbulan saja buat saya itu sudah cukup tangguh. Lebih tangguh dari pekerjaan itu sendiri. Dan mungkin konteksnya akan berbeda ketika saya dalam bidang bisnis misalnya. Maksud saya menjalankan bisnis. Mungkin soal itu bisa dipertimbangkanlah… Tetapi bekerja di LSM atau jadi guru misalnya, untuk mengumpulkan uang Rp 80 juga buat saya itu membutuhkan waktu sekitar  14 tahun lamanya dengan menyisihkan misalnya Rp 500.000 per bulan. Kalau saya bisa konsisten selama 14 tahun itu, artinya bisalah.. But, again, in my context, selamat deh…:) unless my father is rich enough  or I myself, the business owner.

Itu masih di UI. Lalu, kalau ke Eropa misalnya? Yuk, berhitung sebentar ya hehehe… saya senang hitung2an juga sih soalnya, melatih otak bagian kiri apa kanan ya? hehe…. Yang saya tau itu, untuk sekolah ke Eropa untuk dua tahun misalnya, dibutuhkan dana untuk tuition fee 10.000 euro per tahun x 2 = 20.000. Living allowance dan biaya lainnya 1.200 per bulan x 12 bulan x 2 tahun = 28.800. In total 48.800 euro. Rupiahnya more less 637 juta. hehehe… Setengah miliar lebih..  Jadi satu orang itu membutuhkan 637 jt.

 

Masih soal hitung2an🙂 kalau uang rakyat dalam kasus Bank Century yang 6,7 triliun sebenarnya diberikan kepada putra/putri terbaik bangsa ini untuk melanjutkan studinya bisa menghasilkan 10.518 orang tamatan sekolah2 terbaik di seantro jagad ini. Fantastis gak? 10.518 orang bisa dibiayai untuk studi lanjutan di sekolah terbaik di dunia ini… 10.518 orang…

 

…. to be continued