Teman2,

Kebetulan aku agak2 sibuk belakangan ini. It really takes my time and thinking. Aku lagi nyiapin applikasi di sebuah Universitas yang gak menerima Generic Application dari IFP. Sebenarnya, semua fellow elect of IFP apply Universitas apapun pakai Generic Application ini. But this University has its own reason for requiring any applicant to use its own application form. Jadi praktis aku sibuk ngisi form itu dan supporting materialsnya. Ngisi formnya sih gampang. Sama seperti mengisi Generic Application. Howeever, ada beberapa yang sedikit berbeda. This University requires more. It requires CV &  Written Work 2 pieces besides the standard one; Statement of Purpose (Study Objectives). Akhirnya yang kulakukan adalah memperbaiki kembali Statement of Purpose atau Study Objectives.

Di Generic Application bawaan IFP, Study Objectives itu sebenarnya sangat umum sekali. Maksudnya begini. Di Study Objectives (Statement of Purpose) itu, kita menulis secara umum kenapa kita memilih sebuah studi tertentu dan kira-kira apa kaitannya dengan background kita dan apa yang akan dilakukan setelah menyelesaikan studi itu. Nah, Universitas ini, yang belum saya mau sebutkan namanya🙂🙂🙂, meminta tidak sekedar itu. Tetapi menuliskan juga tentang apa yang akan dipelajari pada First Year. Nah, ini bisa dilihat dari website mereka. Mereka ingin memastikan bahwa applicant sudah aware dari awal apa yang akan mereka pelajari di First Year. Aku pikir ini cukup bagus. Selain itu mereka juga meminta supaya applicant menuliskan apa Option yang akan dipelajari di Second Year dan rencana tesisnya kira2 apa secara umum. Nah, untuk pilihan Option Courses itu ada daftar di webnya mereka.  All in all, this University wants to make sure that the applicant is fully aware of subjects or topics to be taken in the University.  Buat aku, model gini is just perfect..🙂🙂

 

Omong2 soal pefectionisme, nah, kebetulan aku juga orang yang sedikit perfectionis hehe.. Kata sedikit ini saya buat dalam garis miring🙂 karena menurut saya perfeksionismenya saya hanya sedikit sementara mungkin menurut orang lain bisa jadi too much :p  Then, what i did is to revise over and over all the form and supporting materials. I revised them over and over again until the deadline hehehe.. Penyakit orang pefectionis itu begitu tuh. Sesuatu itu tak akan pernah selesai. There is no any word of ‘finish’ in their dictionaries kecuali di saat-saat terakhir. at the very last minutes.

Nah, persoalannya adalah setelah selesai ngerjaian sesuatu, katakanlah CV misalnya. Aku dah selesai nulisnya di Ms Word dan konversinya ke PDF supaya tidak berubah formatnya. Lalu aku print. Nah, kemudian di saat senggang, aku baca lagi dan baca lagi. Eh, ternyata ada yang lupa. Lalu aku ke komputer lagi dan ngetiknya kembali dan seperti itu lagi, konversi ke PDF, dan pergi ke warnet untuk ngeprint. Siap. Dan tentu saja sambil ngerjain yang lain. Dan semuanya dah siap. Eh, tapi waktu saya sodorkan ke teman untuk sekedar lihat saja, dia bilang eh ini spasinya koq beda dari yang lain dan aku lihat, OMG. Koq aku bisa miss begitu. Dan dia bilang tak apa-apalah, udah bisa itu. Lagian ada kesalahan dikit, gpplah. Yang pentingkan isinya.. Hehehe tetapi saudara2, kita gak model begitu. Bagaimana mungkin saya membiarkan ada kesalahan satu titik dan kemudian mengatakan pada diriku, “Sudahlah udah bisa itu!” hehehehe Akhirnya aku perbaiki lagi.  Entahlah, tapi buat saya, membiarkan satu titik kesalahan yang anda tau itu kesalahan apakah itu kesalahan ngetik, salah eja, atau penempatan koma dan titik yang tidak tepat, membiarkannya begitu saja sambil menghibur diri sendiri buat saya unacceptable hahaha…. Parah ya??? Tetapi sekali lagi. Membiarkan ada kesalahan dan masih ada waktu memperbaikinya sebenarnya buat saya itu adalah bentuk-bentuk dari dosa yang harus dihindari hehehehe… Sebuah dosa, saudara2… hehehe… Pengecualian itu hanya bisa dalam sebuah kondisi. Kondisinya adalah anda tidak tau kesalahan itu. Tidak tau soal itu and all are fine… Saya tidak tau dan that’s fine at all… Hanya itu pengecualiannya…

 

Aku tidak sedang membenarkan sikap pefectionis itu. Tetapi mari lihat sedikit dari perspektif yang lain. Aku mau mengajak melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda. Nah, sekarang anda bekerja di bagian administrasi. Biasanya orang bagian administrasi dan keuangan ini kan orangnya sangat teliti. Sangat rigid. sangat detail. Makanya mereka dipilih untuk posisi itu. Kalau anda tipikal orang ‘penggembira’ yang biasanya cepat sekali ‘berhahihahiha’, posisi ini tidak tepat deh. Sebagai marketing, bolelah..🙂 Nah, anda dengan ketekunan terhadap detail2 itu selama bertahun2 atau mungkin berpuluh2 tahun, tiba2 ada seorang applicant menuliskan ‘passpord’. Reaksi anda yang normal sebagai seorang yang tekun pada ketelitian anda akan mengatakan, “WTH with this typo. Passpord??? OMG! Is this a new word in English??” hehehe.. Dan kemudian anda akan berteriak dan mengatakan “Passport,  dumbass!” hehehe… 

Sekarang gantian. Katakanlah anda yang menuliskan ‘Passpord’ itu dan pernah melihat itu dalam applikasimu sebelumnya tetapi tidak mau memperbaikinya walaupun masih ada waktu karena alasan tadi, “Ah, udah bisalah itu”. Anda bisa membayangkan situasinya kan??

That’s the point of what I am going to say… Membiarkan kesalahan dan tidak mau memperbaikinya walaupun masih ada waktu adalah dosa :p

Dan menjadi orang pefeksionis itu ada positifnya saya kira. Iya, ada positifnya. Yang saya tau, biasanya mereka ini kalau bekerja hasilnya lumayan. Lumayan adalah kata lain dari ‘the best ever’.🙂

Jadi sebenarnya apa yang saya lakukan selama beberapa hari ini adalah untuk memenuhi standar para perfeksionis itu DAN untuk menikmati perfeksionisme itu sendiri hahaha…..

 

Eh, ada yang mau kopian format CV gak? Menurut saya CV yang kukirim itu bagus. Sebenarnya itu model CVnya Europass dengan sedikit modifikasi.