Tags

Jadi praktisnya saya senang foto. Ya, hobi. Sebenarnya hobi ini antara menyita waktu dan menyenangkan hati, antara menyenangkan dan menyenangkan sekali hehehe.. Saya coba uploadnya di http://123456890foto.wordpress.com

Anyways, ada beberapa skills yang akan diuji di TOEFL either ITP or iBT. But, there is slight difference though. ITP menguji 3 skills; listening, structure (grammar) dan reading. Sementara iBT menguji 4 skills; listening, writing (di dalamnya tentu saja grammar atau structure), speaking dan reading. Saya akan coba sharing trik2 menaklukan 4 tricks ini. Menurut saya lho… not really the best might be, but at least these are what I am doing (present continous tense). That means I am still doing it.

Sebelum ke sana, kayaknya backgroundnya perlu saya jelaskan dulu ya..🙂

Pernah membayangkan gak kejadian seperti ini. Anda duduk di sebuah kelas. Sebuah kelas di kampus katakanlah di UI. Anda tamat dari sebuah SMA (U) dari sebuah daerah di Indonesia ini yang bahasa nativenya adalah Bahasa Ibu anda dan bukan Bahasa Indonesia.  Teman-teman anda berasal dari daerah dimana Bahasa Indonesia sudah menjadi Bahasa Ibunya. Lalu, di dalam kelas, kalian berdiskusi tentang daerah anda yang sebenarnya anda lebih tahu dari mereka. Tetapi karena anda tidak lancar berbahasa Indonesia, anda kemudian tidak bisa berbuat apa-apa dan mereka, teman-teman anda, itu berpikir bahwa yang mereka katakan adalah benar karena anda tidak memberikan argumen atau bantahan apapun. Bayangkan perasaan anda akan seperti apa?

Atau, ketika dalam sebuah kelas, kalian sedang berdiskusi, lalu teman-teman anda tertawa terbahak-bahak dan anda kebingungan apa poin yang mereka sedang tertawakan..

Analogi ini bisa separuhnya benar atau bisa juga bisa sepenuhnya benar.🙂 Poin yang mau saya katakan adalah sederhana. Saya tidak bisa membayangkan saya di sebuah kelas di Tokyo University yang menggunakan Bahasa Jepang tetapi saya tidak lancar berbahasa Jepang atau berada di sebuah kelas di Checko dan saya tidak mengerti benar bahasa yang dipergunakan.

Dan yang pernah dan sering sekali saya dengar adalah bahwa banyak mahasiswa Indonesia di luar negri menjadi pendengar setia di kelas. Tidak memberikan banyak komentar atau pendapat di kelas. Saya tidak percaya bahwa ini adalah soal budaya. Kita kan ada budaya suka ngomong, bukan? Lalu? Saya haqul yakin bahwa ini soal semata-mata adalah karena faktor ketidakmampuan mengungkapkan pemikiran, pendapat dan perasaan dalam Bahasa Inggris. In most cases, I believe that is the  main factor, kekurangmampuan menguasai Bahasa Inggris.

Pengalaman lainnya. Teman saya di LSM lebih tepatnya atasan saya. Ketika bertemu dengan para partnernya (funding) yang berbahasa Inggris, dia tidak bisa berbuat apa-apa mengatakan apa yang sedang dia kerjakan dan pikirkan. Penerjemahnya yang tidak berpengalaman tak mampu mengungkapkan precisely what he wanted to say. Padahal, kalau kami lagi berdiskusi, saya respect ke dia karena orangnya cerdas dan mampu mengungkapan sesuatu dengan cara yang unik. Dia memiliki kemampuan itu ketika berbahasa Indonesia, tetapi ketika berbahasa Inggris, semuanya menjadi rancu dan it did not make any sense.

Saya mengatakan ini karena TOEFL, ITP TOEFL lebih tepatnya, dan kemampuan berbahasa Inggris adalah bisa menjadi dua hal yang berbeda. Maksudnya? ITP TOEFL tidak selalu menjadi indikator yang tepat untuk menunjukan kemampuan menggunakan Bahasa Inggris lebih baik. Banyak yang mendapatkan nilai ITP TOEFL tetapi Bahasa Inggrisnya juga masih kurang baik. Bahkan seorang English native speakerpun, kalau disuruh mengambil test ITP TOEFL belum tentu nilai TOEFLnya tinggi. So? Mari belajar dua-duanya; trik peningkatan nilai TOEFL dan kemampuan menggunakan Bahasa Inggris. Mari, mari, mari mbak/mas, mari……🙂🙂

Wah busyet… masih pengantar aja ya….. next posting tricknya ya.. terlalu panjang sih preamblenya.