Tags

, ,

Listening.

Mendengar English native speaker tidak selalu mudah. Tetapi terima kasih internet. Sekarang English native speaker itu bisa anda selalu dengar. Bahkan bukan hanya itu, anda bisa membawanya kemana saja, ke kampus, ke rumah teman, di bus, di transjakarta, di kopaja, di taksi, di metromini, ke mall, ke sawah, ke tempat kerja, ke ranjang atau ke toilet sekalipun🙂🙂🙂 Nah, sebelum membawa si bule itu ke toilet sambil dia cas cis cus, dengarkan dulu kisah menyedihkan saya ini hehehe….

1995. Tahun kedua kuliah saya. Yah, saya sudah tua, saya tau itu hehehe… Ya, tahun 1995. Saya penasaran. Di lab bahasa, dosen saya itu mutar kaset Bahasa Inggris. Setelah itu dia tanya, apa yang kami dengar. Dan kamipun mencoba dengan segala daya upaya mengungkapkan kembali apa yang didengar. Kondisinya waktu itu antara mendengarkan suara yang berbau Bahasa Inggris atau mendengar orang bergumam atau orang yg sedang mebaca mantra-mantra dalam bahasa asing.:) Karna, anehnya setelah kami menjawab – lebih tepatnya mengatakan dan mengira-ngira apa yang didengar- jawaban kami biasanya tidak tepat. Padahal yang dikatakan itu bukan hal yang aneh-aneh tetapi bahasa inggris biasa-biasa saja. 

Lalu saya penasaran. Apa sih. Koq aneh benar. Gendang telinga saya yang bermasalah atau apa? Sepertinya ada sesuatu yang salah. Dan mukjizat itu datang. Teman sebelah kamar saya. Dia punya tape yang sudah ujur dan dia hendak membuangnya. Dia ingin membeli yang baru. Lalu saya bilang, daripada dibuang, serahkan saja ke saya. Biar saya tangani dia dengan baik hehehe…. Dan akhirnya dia serahkanlah tapenya yang sudah ujur dan usang itu dan tentu saja tidak bisa lagi memutar tape di situ. Dan saya bersyukur dan  selalu berdoa semoga tangan saya tidak tergores pada salah satu sisi tape itu supaya saya tidak tetanus hahaha… Sekedar informasinya, internet pada saat itu belum menunjukan batang hidungnya di kota tempat saya kuliah itu…

Lalu apa yang saya lakukan dengan tape busuk itu?🙂 Begini ceritanya. Di tape itu, ada SW (short wave). Gelombang pendek. Gelombang ini bisa menangkap siaran-siaran radio dari luar. luar negri maksudnya. Dan pada saat itu, ketika saya coba-coba cari gelombangnya saya dapat radio BBC atau American Voice kalau tidak salah. Hah, ini dia nih. Jadi saya dengar. Yang saya dengar itu memang tidak persis seperti di lab itu tetapi sedikit berbeda. Dia berbeda karena Bahasa Inggrisnya normal (tidak dibuat-buat seperti di tape di lab itu hehehe) dan kalau anda masih hidup di jaman kegelapan itu, suara penyiarnya masih diiringi dengan suara-suara latar, suara-suara semut, suara-suara yang lain zzzzzzz. Kayak gitulah. Pernah nonton tv hitam putih? Di tv hitam putih, selain tidak cerah dan tentu saja hanya ada dua warna hitam dan putih, sering sekali banyak semutnya…:)🙂 gambarnya tidak bersih dan suaranya juga tidak bersih. jadi, generasi sekarang bersyukur sekali tidak menemukan hal-hal seperti itu lagi barangkali.  Perasaan tua yo… hehehehe….Lanjut. Jadi waktu saya dengar itu, selama 15 menit, saya tidak mengerti sama sekali apa yang sedang dibicarakan. Tetapi dia menyebut nama-nama presiden, nama kota, negara atau ada sedikit yang saya tangkap. Itulah awal pertamanya.

Oh, tapi kita bukan orang yang gampang menyerah, bung?! hehehe.. Saya memakai kata bung ini, karena salah satu commentator di blog ini, Regia, dia menggunakan kata “bung” dan saya tergelitik begitu membacanya hehehe… Jadi saya mau pake kata itu juga.

Esok harinya. Saya sudah siap mendengar radio kesukaan saya itu lagi hahaha… Saya mengambil pena, secarik kertas dan tentu saja segelas air putih🙂 Saya cari kembali gelombangnya dan mendengarkan Radio BBC. Saya mencatat apa saja kata yang saya tangkap. Apa saja. Selama 15 menit itu. Tidak terlalu jelek memang. Karena yang saya tangkap dari secarik kertas itu mungkin yang tercatat di saya hanya 3 atau 4 baris. Kurang lebih 30 an katalah… Lalu, saya pikir  kegiatan ini menarik. Mencatat apa yang didengar. (Mungkin inilah salah satu penyebab asal muasal saya menjadi good note taker dan pendengar yang budiman)🙂 Buat saya menarik. Dan saya membuat kaul. Janji. Setiap hari, sebelum berangkat ke kampus dan sebelum tidur, saya akan menyediakan waktu 15 menit untuk melakukan kegiatan itu; mendengar dan mencatat apa yang saya dengar.

1 bulan berlalu. 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan. Apa yang terjadi saudara2??? Hah,.. ini dia. Dengan sedikit senyum tersungging di bibirku yang tak seberapa ini, saya sudah mulai menangkap apa yang sedang dibicarakan oleh si pembawa berita, si penyiar berita.. I got the points. I got the sense of what he/she was talking about… Bahkan saya sudah dapat informasi berita-berita luar negri lebih duluan sebelum saya membacara koran pada hari itu. Menarik, bukan??

Dan sejak saat itu saya kira saya tidak punya persoalan lagi dengan listening. Listening of English… Dan saya juga telah menyimpulkan bahwa ternyata bukan gendang telinga saya yang bermasalah.. Tetapi semuanya itu hanyalah karena faktor kebiasaan saja mendengarnya… Yah,..faktor kebiasaaaaan mendengar.. Kebiasaaaaan…. Alah bisa karena biasa coi…. begitulah para leluhur mengatakannya… alah bisa karena biasa….🙂🙂🙂

Lalu apa hubungannya dengan awal tulisan ini tadi, membawa si bule ke toilet?? Tentu saja, saya tidak sedang bermaksud bahwa anda dengar radio anda ke toilet. Oh, bukan. Bukan itu. Selain tentu saja tidak mungkin (apa kata orang?), yang saya maksud begini.

Ini jaman internet mba/mas, kang/jeng, pak/bu, om/tante. Downloadlah podcasts. Apa itu podcasts? Menurut Ensiklopedia berbahasa Indonesia http://id.wikipedia.org/wiki/Podcasting, 

Podcasting ialah salah satu metode untuk mempublikasikan file-file suara di internet, dan mengijinkan user untuk berlangganan dan memperoleh file audio terbaru secara otomatis.

Hasil dari podcating itu disebut podcasts. Dan inilah yang saya terus lakukan. Saya mendownload podcast dan saya bawa-bawa kemana-mana termasuk ke toilet tentunya. Nah darimana mendownloadnya? Nah, pertama download dulu softwarenya. Namanya iTunes. Bisa didownload di sini http://www.apple.com/itunes/      Setelah itu jalankan iTunesnya. Klik iTunes Store dan anda akan temukan bagian Podcasts di situ. Carilah apa saja yang ingin anda dengar; berita terkini, komedi atau apa saja.. Kalau yang jadi favorit saya itu Inside Europe, Democracy Now!, APM: The Story, The Official Barack Obama Video Podacsts, Larry King Live dan WTF with Marc Maron (lol).

Setelah itu, and sync kan ke MP3 player anda atau iPod anda. iPod yang murah itu dapat Rp 500.000. Dan bawalah bule itu ke ranjang atau toilet sambil dia cas cis cus hehehehe….