Jadi sedang ngerjain aplikasi beasiswa? Teruskanlah..๐Ÿ˜€ Karena setiap kegiatan yang anda lakukan itu akan selalu berguna. Merunut tgl lahir, masuk SD, keluar SMP, masuk SMU (A), kuliah, dll saja sudah sebuah pekerjaan mulia๐Ÿ™‚ Apalagi kalau misalnya harus bongkar-bongkar dokumen2 dari jaman ke jaman.ย 

Pameo 1001 jalan ke roma mah, sering. Dan yang tidak sering kita dengar 1002 jalan tak ke roma. Iya, karena terkadang di tengah kesibukan2, ada saja hambatan menyelesaikan banyak hal. Apalagi hal2 yang berbau administrasi. Hah, pusing 7 keliling. Artinya memang akan saja selalu ada jalan dan pembenaran kenapa tidak mencapai sesuatu. Betul, tidak? Hal yang sederhana misalnya, dan ini yang saya alami. Ikutin TOEFL. Ada saja alasan kenapa saya tidak pernah ikut test TOEFL. Mulai dari belum ada bukunya, lebih tepatnya belum ada duit beli bukunya, dan ketika ada duit rasanya lebih mending fotokopi dari teman yang sudah punya bukunya dan ketika tanya2 teman2 yang punya bukunya, ngambilnya pun tidak sempat2.. Dan ketika sudah dapat fotokopinya, saya targetkan setiap hari minggu akan belajar TOEFL. Jadi sekitar yah 3 s/d 6 bulan sudah bisalah. Dengan semangat 45, saya mulai. Satu halaman selesai, dua halaman selesai, tiga halaman mulai ada gangguan, empat halaman lihatnya hanya sekilas, halaman ke lima dan seterusnya tak pernah liat seperti apa bentuknya..๐Ÿ˜€

Dan setelah 6 bulan berikutnya, wah ternyata baru sadar buku fotokopi TOEFL itu belum ‘sepenuhnya’ dibaca. Dengan semangat perubahan, akhirnya kumulai lagi membacanya. Halaman satu selesai, halaman dua selesai, halaman tiga juga selesai dan begitu juga sampai dengan halaman ke 7. Karena kebetulan ada kegiatan, yah, sedikit ditundalah. Satu bulan kemudian, mulai lagi buka halaman 8 dan halaman 9. Tapi rasa-rasanya koq agak bosan juga. Mungkin dengan tempat yang lain bisa lebih cocok karena kalau di kamar terus rasanya koq tidak nyaman belajarnya. Maka mulailah belajar TOEFL ย di halaman rumah teman. Mulai buka halaman baru. Dan masih separoh halaman 10 yang dibaca koq ada gangguan ya. Ah, orang-orang koq berisik bgt ya.. Hm… Ah sudahlah ntar cari waktu yang tepat saja.ย 

Dan 6 bulan setelah itu lagi, teman bercerita ttg rencananya melamar beasiswa dan saya mulai lagi semangat buka buku TOEFL saya. Halaman 10 itu masih terlipat. Artinya belum selesai. Dan seterusnya….

—————————–

Untungnya ketika keinginan itu tidak pernah padam. Akan selalu ada jalan. Keinginan yang tak pernah mati itulah yang membuat saya terus bertahan untuk mengejar impian saya untuk belajar di negri orang. ‘Ngeles’? Cari pembenaran? Justifikasi? dengan humble saya akui saya orangnya hehehe…. Tetapi sekali lagi untungnya, bara itu tidak pernah padam. Mungkin sederhana saja cara berpikirnya. Saya menyadari bahwa betapapun saya mengetahui banyak hal yang saya pelajari dari macam-macam hal (dari pengalaman, dari bapak yang makan sewarung dengan saya, dari teman yg ngomongnya koq lancar aja, koran kompas yg datangnya terlambat, cerita2 dgn si bule yang lupis -lugu-lugu pukimak –๐Ÿ˜€, si teman yg punya wawasan, si bapak petani yang semangat, si ibu petani yg pulang dari ladangnya dgn wajah letih tapi sorot matanya tajam, dari email teman, dari anak kecil yg keliatannya aja bandel, dari si pintar yg tulisannya menggugah, dari rumah2 gubuk yg saya temui) tetapi tetap ada saja yang saya pikir saya tidak tahu. Dan pertanyaannya selalu muncul “Kenapa mereka miskin ya?” Seolah-olah saya juga tidak miskin๐Ÿ™‚ Tetapi setidaknya, melihat orang lebih miskin dari kita, masih juga bertanya koq bisa ya..? Lalu apa persoalannya? Kenapa? Lha bukannya pemerintah itu tugasnya menyejahterakan rakyatnya? Tapi koq? Kan masyarakat itu tidak bodoh, lalu? Atau saya yang bodoh? Kenapa saya bodoh? Kenapa koq biaya operasional programnya lebih besar dari biaya proyeknya? Lha? Katanya transparan, lalu kenapa dia tidak memberitahu kita darimana uangnya? Kenapa dia berpikir itu uangnya? Kan kita ini fasilitator saja? Trus, bagaimana bertahan hidup organisasi ini? Sudah subsidi pupuk, tapi pupuk koq langka? Katanya penegak hukum, bayar dikit, perkara habis? Lha? Koq? Kenapa begitu?

Dan bara itu tidak pernah padam…

Untungnya mencari jawaban2 itu tak pernah berhenti dan mampu mengalahkan kejagoanku ‘ngeles’ hehehe… Jadi pada dasarnya tidak butuh 1001 satu jalan ke roma. 9 saja sudah lumayan apalagi kalau bisa lebih dari 9 pasti bisa….!!!!๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚